The Waste Land in Indonesian
I used to have an Indonesian language teacher, Tomi, who came to my house five mornings a week. One of the things we did was translate The Waste Land. As a result, my Indonesian never got any better. (There may be something in the Communicative Approach after all.)
The result of our labours is more literal than literary and is displayed here only as a curiosity.
Tanah Tandus
oleh T.S. Eliot (1922)
Diterjemahkan dari The Waste Land dalam bahasa Inggris

'NAM Sibyllam quidem Cumis ego ipse oculis meis vidi in ampulla pendere, et cum illi pueri dicerent: Sebulla pe theleis; respondebat illa: apothanein thelo.'
Untuk Ezra Pound
il miglior fabbro
I. PEMAKAMAN
April adalah bulan yang terkejam, mengembangbiakkan
Lilac-lilac dari tanah mati, mencampurkan
Kenangan dan keinginan, menggerakkan
Akar-akar mandek dengan hujan musim semi.
Musim dingin menjaga kehangatan kita, menutupi
Bumi dengan salju kelupaan, memberi makan
Kehidupan kecil dengan umbi-umbi dikeringkan.
Musim panas mengagetkan kami, menyeberang Starnbergersee
Dengan hujan rinai; kami berhenti di barisan tiang,
Dan melanjutkan dalam cahaya mentari, ke dalam Hofgarten,
Dan minum kopi, dan bicara satu jam.
Bin gar keine Russin, stamm' aus Litauen, echt deutsch.
Dan saat kami kanak-kanak, berkunjung ke rumah pangeran,
Sepupuku, dia membawaku di kereta luncur salju,
Dan aku takut. Dia bilang, Marie,
Marie, pegangan. Dan kami ke bawah.
Di gunung-gunung orang merasa bebas.
Aku membaca sepanjang malam, dan ke selatan di musim dingin.
Akar-akar apa yang menggapai, cabang-cabang mana yang tumbuh
Dari reruntuhan ini? Anak manusia,
Kamu tidak berkata atau menerka, karena kamu tahu hanya
Tumpukan gambaran rusak, di mana matahari terik,
Dan pohon mati tidak memberi naungan, jangkrik kelegaan,
Dan batu kering suara air. Hanya
Ada bayangan di bawah batu merah ini,
(Masuk di bawah bayangan batu merah ini),
Dan aku mau menujukanmu sesuatu yang berbeda dengan
Bayanganmu hari pagi melangkah tegap di belakangmu
Atau bayanganmu hari sore naik untuk menemuimu;
Aku mau menujukanmu ketakutan dalam segenggam debu.
Frisch weht der Wind
Der Heimat zu.
Mein Irisch Kind,
Wo weilest du?
'Kamu memberiku hyacinth-hyacinth pertama setahun lalu;
'Mereka memanggilku gadis hyacinth.'
- Tapi ketika kita pulang, larut, dari taman hyacinth,
Tanganmu penuh, dan rambutmu basah, aku tak bisa
Bicara, dan mataku gagal, aku tak
Hidup atau mati, dan aku tak tahu sesuatu,
Melihat ke dalam jantung cahaya, diam.
Oed' und leer das Meer.
Madame Sosostris, peramal masyhur,
Pilek berat, namun
Terkenal sebagai wanita pintar terbaik di Eropa,
Dengan set kartu haram. Di sini, kata dia,
Kartu anda, Pelaut Fenisia tenggelam,
(Itu mutiara-mutiara yang dulu matanya. Lihat!)
Di sini Belladonna,
Ibu Karang-Karang,
Ibu segala situasi.
Di sini laki-laki dengan tiga tongkat, dan di sini Roda,
Dan di sini pedagang pecak, dan kartu ini,
Yang kosong, adalah sesuatu yang dia panggul,
Yang aku dilarang melihat. Aku tidak menemukan
Orang Digantung. Waspada maut dari air.
Aku melihat kerumunan orang, berkeliling di lingkaran.
Terima kasih. Kalau anda ketemu Ibu Equitone sayang,
Bilang dia saya sendiri membawa perbintangan:
Kini orang harus sangat hati-hati.
Kota khayal,
Di bawah kabut cokelat pada fajar musim dingin,
Kerumunan mengalir di atas Jembatan London, sangat banyak,
Aku tidak mengira maut sudah merusak sebanyak itu.
Keluh-keluh, singkat dan jarang, dikeluarkan,
Dan setiap orang memancangkan matanya ke depan kakinya.
Mengalir ke atas bukit dan ke bawah Jalan King William,
Ke tempat Saint Mary Woolnoth menunjukkan jam
Dengan bunyi mati pada pukulan terakhir jam sembilan.
Di sana aku melihat orang yang aku kenal, dan menghentikannya,
berteriak: 'Stetson!
'Kamu yang bersama saya di kapal-kapal di Mylae!
'Mayat itu yang kamu tanam tahun lalu di halamanmu,
'Sudah mulai bertunas? Akan berbunga tahun ini?
Atau embun beku mendadak mengganggu kebunnya?
Oh jauhkan Anjing dari sini, yang teman orang-orang,
Atau dengan kukunya dia mau mengoreknya lagi!
'Kamu! hypocrite lecteur! - mon semblable, - mon frère!'
II. SEBUAH PERTANDINGAN CATUR
Kursi yang dia duduki, seperti takhta dipelitur,
Berpijar di atas marmer, di mana kaca
Yang diangkat oleh kiap-kiap ditempa dengan pohon-pohon anggur berbuah
Dari mana sebuah Cupidon emas mengintip
(Satu lagi menutup mata di balik sayap)
Menggandakan lidah api dari tempat lilin bercabang tujuh
Memantulkan cahaya ke atas meja sewaktu
Kilau permatanya naik untuk menemuinya,
Dari kotak-kotak satin tertuang berlimpah kemewahan;
Di botol-botol kecil dari gading dan beling warna
Terbuka, mengintai wewangian tiruan aneh,
Salep, tepung, atau cairan - mengganggu, membingungkan
Dan membanjiri indera dengan aroma-aroma; digerakkan udara
Yang menyegarkan dari jendela, ini naik
Sambil menggemukkan lidah api lilin diperpanjang,
Menimpuk asapnya ke dalam laquearia,
Menggerakkan pola langit-langit bercoak.
Gelondongan besar terdampar disuapi dengan tembaga
Menyala hijau dan oranye, terlingkung oleh batu warna,
Yang dalam cahaya sedihnya seekor lumba-lumba terukir berenang.
Di atas galar tungku antik ditampilkan
Seolah-olah jendela tembus pandang ke hutan
Pengubahan Philomel,
oleh raja biadab
Dipaksa sangat kasar; tapi di sana bulbul
Memenuhi seluruh gurun dengan suara tak ternodai
Dan masih dia berteriak, dan masih dunia mengejar,
'Jug Jug' ke telinga-telinga kotor.
Dan buntung-buntung layu lain dari waktu
Diceritakan di dinding; bentuk-bentuk memandang
Doyong ke muka, doyong, mendiamkan kamar tertutup.
Langkah terseret-seret di tangga.
Di bawah sinar api, di bawah sikat, rambutnya
Berderai di ujung berapi-api
Berpijar ke dalam kata-kata, lalu menjadi diam berang.
'Malam ini aku gelisah. Ya, gelisah. Tinggal denganku.
'Bicara denganku. Kenapa kamu tidak pernah bicara. Bicara.
'Apa kau pikir? Pikir apa? Apa?
'Aku tidak pernah tahu apa yang kau pikir. Pikir.'
Aku pikir kita di gang tikus
Tempat orang-orang mati kehilangan tulangnya.
'Bunyi apa itu?'
Angin di bawah pintu.
'Bunyi apa itu sekarang? Angin sedang apa?'
Tidak sedang apa pun lagi apa pun.
'Apa
'Kau tidak tahu apa pun? Apa kau tidak lihat apa pun? Apa kau tidak
mengingat
'Apa pun?'
Aku mengingat itu mutiara-mutiara yang dulu matanya.
'Kau hidup, atau tidak? Tidak ada apa pun di dalam kepalamu?'
Tapi
O O O O that Shakespeherian Rag -
It's so elegant
So intelligent
'Aku mau apa sekarang? Aku mau apa?'
'Ku mau bergegas ke luar seadanya, dan berjalan di jalan
'Dengan rambutku terurai, begitu. Kita mau apa besok?
'Kita mau apa kelak?'
Air panas jam sepuluh.
Dan kalau hujan, mobil tertutup jam empat.
Dan kita akan main sebuah pertandingan catur,
Menekan mata tanpa kelopak dan menunggu pintu diketuk.
Waktu suami Lil disipilkan, aku bilang -
Aku terus-terang, aku sendiri bilang dia,
AYO CEPAT WAKTUNYA HABIS
Sekarang Albert mau pulang, agak tata dirimu.
Pasti dia mau tahu yang kau buat sama uang itu yang udah dia kasih
Untuk beli geligi mu. Betul dia, aku ada.
Cabut semua gigimu, Lil, dan beli set geligi yang bagus,
Kata dia, bener-bener, aku nggak tahan lihat kau.
Aku juga, kataku, pikirin deh Albert sayang,
Dia udah empat tahun jadi tentara, dia mau bersenang-senang,
Dan kalau kau nggak ngasih, ada orang lain yang mau, kataku.
Oh, ya, kata dia. Kira-kira gitu, kataku.
Kalau gitu aku akan tahu siapa yang mesti berterimakasih, kata dia, dan
menatapku tajam.
AYO CEPAT WAKTUNYA HABIS
Kalau kau nggak suka, kau bisa bertahan, kataku.
Orang lain bisa memilih-milih kalau kau nggak bisa.
Tapi kalau Albert kabur, bukan sebab kurang saran.
Mestinya kau malu dong, kataku, untuk kelihatan usang gitu.
(Dan dia tiga satu tahun aja.)
Aku nggak bisa ngehindar, kata dia, bermurung wajah,
Sebab pil-pil yang ku telan, supaya nggak jadi, kata dia.
(Dia udah punya lima, dan hampir mati karena George kecil.)
Apoteker bilang semuanya bakal beres, tapi sejak itu aku berubah.
Kau bener-bener tolol, kataku.
Gini deh, kalau Albert nggak mau ninggalinmu, ya gitu deh, kataku.
Kenapa kau kawin kalau nggak mau punya anak?
AYO CEPAT WAKTUNYA HABIS
Nah, hari Minggu itu Albert pulang, mereka punya daging babi asap panas,
Dan mereka ngundang aku makan malam, untuk ngrasain panasnya -
AYO CEPAT WAKTUNYA HABIS
AYO CEPAT WAKTUNYA HABIS
Malem Bill. Malem Lou. Malem May. Malem.
Da dah. Malem. Malem.
Selamat malam, nyonya-nyonya, selamat malam, nyonya-nyonya manis,
selamat malam, selamat malam.
III. KHOTBAH API
Tenda sungai rusak: jari-jari daun terakhir
Menggapai dan membenam ke dalam tepi basah. Angin
Menyeberang tanah cokelat, tak terdengar. Para peri sudah pergi.
Thames manis, jalan pelan-pelan, sampai aku selesai nyanyianku.
Sungai tidak membawa botol kosong, bungkus sandwich,
Saputangan sutera, dus karton, puntung rokok
Atau kesaksian lain dari malam-malam musim panas. Para peri sudah pergi.
Dan teman-temannya, para ahli waris direktur perbankan keluyuran;
Sudah pergi, tak meninggalkan alamat.
Di tepi perairan Leman aku duduk dan menangis ...
Thames manis, jalan pelan-pelan sampai aku selesai nyanyianku,
Thames manis, jalan pelan-pelan, karena aku bicara tak keras atau lama.
Tapi di belakangku dalam hembusan dingin aku dengar
Derak belulang, dan ketawa kecil menyebar dari telinga ke telinga.
Seekor tikus merangkak pelan-pelan melalui tumbuh-tumbuhan
Menggusur perut berlendirnya di tepi
Sambil aku memancing di terusan mandek
Di satu malam musim dingin di belakang kilang gas
Merenung tentang kekandasan kakakku raja
Dan tentang kematian ayahku raja sebelumnya.
Tubuh-tubuh putih telanjang di tanah rendah lembab
Dan belulang dilemparkan di loteng kecil rendah kering,
Diderak-derakkan hanya oleh kaki tikus, tahun ke tahun.
Tapi di belakangku kadang-kadang aku dengar
Bunyi klakson dan mobil, yang akan membawa
Sweeney kepada Mrs Porter di musim semi.
Oh bulan menyorot terang Mrs Porter
Dan anak gadisnya
Mereka mencuci kaki dalam air soda
Et, O ces voix d'enfants, chantant dans la coupole!
Cuit cuit cuit
Jug jug jug jug jug jug
Dipaksa sangat kasar.
Tereu
Kota khayal
Di bawah kabut cokelat pada siang musim dingin
Mr Eugenides, pedagang Smyrna
Tak dicukur, dengan kantung penuh kismis
Loko X ke London: penyerahan dokumen waktu bayar,
Mengundangku dalam bahasa Perancis pasaran
Untuk makan siang di Cannon Street Hotel
Dilanjutkan hari Sabtu Minggu di Metropole.
Pada jam violet, waktu mata-mata dan punggung
Berpaling ke atas dari mejatulis, waktu mesin manusia menunggu
Seperti taksi berdenyut menunggu,
Aku Tiresias, meskipun buta, berdenyut antara dua kehidupan,
Pria tua dengan tetek perempuan keriput, bisa melihat
Pada jam violet, jam sore yang berjuang
Pulang, dan membawa pelaut pulang dari laut,
Juru tik pulang waktu makan sore, membereskan bekas sarapan, menyalakan
Kompornya, dan menyajikan makanan kalengan.
Di luar jendela secara berbahaya dibeberkan
Celana kodoknya sedang dikeringkan disentuh sinar matahari terakhir,
Di dipan ditumpuk (malam ranjangnya)
Beberapa stoking, selop, singlet, dan korset.
Aku Tiresias, pria tua dengan susu keriput
Paham pemandangan, dan menduga yang lainnya -
Aku juga menunggu tamu yang diharapkan.
Dia, pemuda berbisul, datang,
Carik broker kecil, dengan sebuah tatapan lancang,
Salah seorang yang rendah yang diduduki kepercayaan diri
Seperti topi sutera di miliuner dari Bradford.
Saat sekarang menguntungkan, yang dia kira,
Makan sudah selesai, wanita bosan dan lelah,
Mencoba mengajaknya bercumbu
Yang namun tak dimarahi, walaupun tak diinginkan.
Mukanya merah, yakin, dia menyerbu langsung;
Tangan-tangan menjelajah tak menghadapi pertahanan;
Keangkuhannya tak memerlukan tanggapan,
Dan menyambut ketidak acuhan.
(Dan aku Tiresias sudah bertahan sebelum terjadi semua
Yang dimainkan di dipan atau ranjang inilah;
Aku yang pernah duduk dekat Thebes di bawah tembok
Dan berjalan di antara orang mati yang terendah.)
Menganugerahkan satu ciuman angkuh terakhir,
Dan meraba-raba jalannya, menemui tangga tak dinyalakan...
Wanita berpaling dan melihat sesaat di cermin,
Hampir tidak sadar tentang kekasihnya yang pergi;
Otaknya membiarkan satu pikiran setengah bentuk untuk lewat:
'Baiklah sekarang itu usai: dan aku senang itu berlalu.'
Ketika seorang wanita cantik menghinakan diri demi kebodohan dan
Mondar-mandir di kamar, sendiri,
Dia merapikan rambutnya dengan tangan otomatis,
Dan memasang piringan hitam di gramofon.
'Musik ini merayap lewatku di perairan'
Dan sepanjang Strand,
nanjak Queen Victoria Street.
Oh Kota kota, aku bisa kadang-kadang dengar
Di sebelah bar umum di Lower Thames Street,
Lengkingan sedap sebuah mandolin
Dan denting dan celoteh dari dalam
Tempat tukang ikan beristirahat siang: tempat bangunan
Magnus Martyr memuat
Kemegahan tak terjelaskan dari keputihan dan keemasan Ionia.
Sungai berpeluh
Minyak dan ter
Perahu-perahu terhanyut
Dengan pasang surut
Layar-layar merah
Lebar
Ke lambung bawah angin, berayun di tiang berat.
Perahu-perahu mendamparkan
Gelondongan yang hanyut
Ke arah hilir Greenwich Reach
Lewat Isle of Dogs.
Weialala leia
Wallala leialala
Elizabeth dan Leicester
Memukul kayuh
Buritan dibentuk
Perahu tersepuh
Merah dan emas
Gelombang cepat
Beriak-riak di kedua tepi
Angin barat daya
Membawa ke hilir
Dentang lonceng-lonceng
Menara-menara putih
Weialala leia
Wallala leialala'Trem-trem dan pohon-pohon berdebu.
Highbury melahirkanku. Richmond dan Kew
Merusakkanku. Dekat Richmond aku menekuk lutut
Telentang di dasar kano sempit.''Kakiku di Moorgate, dan hatiku
Di bawah kakiku. Setelah peristiwanya
Dia menangis. Dia janji 'awal yang baru'.
Aku tak memberi komentar. Apa yang harus aku jengkelkan?'Di Margate Sands
Aku tak bisa menghubungkan
Apa pun dengan apa pun.
Kuku rusak tangan-tangan kotor.
Orang-orangku orang sederhana yang tak mengharapkan
Apa pun.'
la laKe Kartago lalu aku datang
Membakar membakar membakar membakar
Oh Tuhan engkau mengeluarkanku
Oh Tuhan engkau mengeluarkanmembakar
IV. MAUT DARI AIR
Phlebas orang Fenisia, sudah dua pekan mati,
Lupa pekik camar, dan gelombang laut dalam
Dan untung rugi.
Arus bawah laut
Mencabik tulangnya dengan bisikan. Sambil dia terombang-ambing
Melewati tahap masa dewasa dan masa muda
Masuk pusaran air.
Orang Yahudi atau bukan
Oh kamu yang memutar kemudi dan melihat ke lambung atas angin,
Pikirkan Phlebas, yang pernah seganteng dan setinggi kamu.
V. YANG DIKATAKAN GUNTUR
Setelah cahaya suluh merah di wajah-wajah berkeringat
Setelah diam dingin di taman-taman
Setelah nyeri di tanah yang berbatu-batu
Berteriakan dan bertangisan
Penjara dan istana dan getaran
Guntur musim semi di atas gunung-gunung jauh
Dia yang pernah hidup sekarang mati
Kita yang pernah hidup sekarang sekarat
Dengan sedikit kesabaran.
Di sini tiada air tapi hanya batu
Batu dan tiada air dan jalan berpasir
Jalan berliku-liku di atas antara pegunungan
Yang gunung batu tanpa air
Seandainya ada air kita berhenti dan minum
Di antara batu orang tak bisa berhenti dan berpikir
Keringat kering dan kaki di dalam pasir
Seandainya ada air saja di antara batu
Mulut gunung mati bergeligi busuk yang tak bisa meludah
Di sini orang tak bisa berdiri atau berbaring atau duduk
Diam pun tiada di pegunungan
Tapi guntur kering mandul tanpa hujan
Kesendirian pun tiada di pegunungan
Tapi wajah-wajah merah asam mencemooh dan menghardik
Dari pintu rumah-rumah lumpur retak
Seandainya ada air
Dan tiada batu
Seandainya ada batu
Dan juga air
Dan air
Sebuah mata air
Sebuah kolam di antara batu
Seandainya ada bunyi air saja
Bukan jangkrik
Dan rumput kering menyanyi
Tapi bunyi air di atas batu
Tempat hermit-thrush menyanyi di antara pinus
Tik tak tik tak tak tak tak
Tapi tiada air
Siapa orang ketiga yang berjalan selalu di sampingmu?
Ketika aku menghitung, hanya ada kamu dan aku bersama
Tapi ketika aku melihat ke depan di jalan putih
Selalu ada orang lain berjalan di sampingmu
Meluncur berselubung mantel cokelat, bertudung
Aku tak tahu kalau seorang pria atau wanita
- Tapi siapa itu di samping lain mu?
Bunyi apa itu yang tinggi di udara
Gumaman ratapan keibuan
Siapa gerombolan-gerombolan bertudung itu menggerumuti
Dataran-dataran tak terbatas, tersandung di tanah retak
Terlingkung oleh ufuk datar saja
Kota apa itu yang di atas pegunungan
Meretak dan membentuk kembali dan meledak di udara violet
Menara-menara ambruk
Yerusalem Athena Iskandariah
Wina London
Khayal
Wanita merentangkan rambut hitam panjangnya ketat-ketat
Dan menggesek musik bisik di tali itu
Dan kelelawar-kelelawar berwajah bayi di cahaya violet
Bersiul, dan mengepakkan sayapnya
Dan merangkak kepala di bawah ke bawah tembok gosong
Dan ada menara-menara terbalik di udara
Mengalunkan lonceng mengenangkan, yang menunjukkan jam
Dan suara menyanyi dari waduk-waduk kosong dan sumur-sumur hampa.
Di lubang busuk ini di antara pegunungan
Di sinar bulan redup, rumput menyanyi
Di atas kuburan acak-acakan, di sekitar kapel
Ada kapel kosong, hanya rumah angin.
Tak punya jendela, dan pintu berayun,
Belulang kering tak bisa menyakiti seorang pun.
Hanya ayam jantan berdiri di wuwungan
Kukuruyuk kukuruyuk
Dalam sekilat. Lalu hembusan lembab
Membawa hujan.
Gangga surut, dan daun layu
Menunggu hujan, seraya awan-awan hitam
Berkumpul jauh, di atas Himavant.
Hutan berdekam, bungkuk dalam diam.
Lalu berkata guntur
DA
Datta: kita pernah memberikan apa?
Kawanku, darah mengguncangkan jantungku
Kenekatan hebat kepasrahan sejenak
Yang tak pernah bisa dicabut oleh abad kehati-hatian
Melalui ini, dan ini saja, kita pernah ada
Yang tak tertemui dalam berita duka cita kita
Atau dalam kenangan-kenangan diselimuti oleh laba-laba berguna
Atau di bawah segel-segel dipecahkan oleh pengacara kurus
Dalam ruangan kosong kita
DA
Dayadhvam: aku telah mendengarkan kunci
Putar di pintu sekali dan putar sekali saja
Kita memikirkan kunci, setiap orang di penjaranya
Memikirkan kunci, setiap orang memastikan sebuah penjara
Hanya pada senjakala, bayang-bayang desas-desus
Menghidupkan sejenak lagi bak Coriolanus hancur
DA
Damyata: Perahu bereaksi
Lincah, terhadap tangan yang ahli layar dan kayuh
Laut tenang, jantungmu akan bereaksi
Lincah dahulu, jika diundang, berdenyut taat
Terhadap tangan yang mengendalikan
Aku duduk di pantai
Memancing, dengan dataran gersang di belakangku
Akankah aku membereskan tanah-tanahku?
Jembatan London ambruk ambruk ambruk
Poi s'ascose nel foco che gli affina
Quando fiam uti chelidon -
Oh walet walet
Le Prince d'Aquitaine à la tour abolie
Pecahan-pecahan ini aku sudah topangkan pada reruntuhanku
Baiklah, saya akan sediakan kalian. Hieronymo gila lagi.
Datta. Dayadhvam. Damyata.
Shantih shantih shantih
Thomas Stearns Eliot lahir di Amerika pada 1888. Dia menetap di Inggris. Ketika sajak ini diterbitkan pada 1922, orang mengenalnya sebagai puisi revolusioner dan sangat berpengaruh. Eliot menerima Penghargaan Nobel untuk Sastra. Dia meninggal pada 1965.